Penanganan Covid-19, Jubir Pemerintah: Butuh Stamina Sosial yang Besar

Achmad Yurianto
Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto. Doc. Youtube BNPB.

Terkini.id, Jakarta – Mengingat panjangnya waktu penyebaran Covid-19, Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, upaya penanganan Covid-19 di Indonesia membutuhkan stamina sosial yang besar.

Salah satu upaya untuk memperkuat stamina sosial itu dapat ditempuh dengan edukasi dan pemberdayaan seluruh masyarakat. Sehingga kesadaran masyarakat untuk terlibat bersama-sama dalam penanganan Covid-19 dapat lebih ditingkatkan lagi agar masyarakat dapat secara mandiri melakukan upaya penangan Covid-19.

“Inilah saat edukasi dalam sisi seperti ini, kita sedang belajar bersama-sama kemudian kita-kita ribut sendiri kan mirip kelas IV SD yang ditinggal gurunya, berantem sendiri di dalam. Sekarang kita sedang di dalam fase seperti itu. Oleh karena itu kalau kita tidak bisa menempatkan diri dalam posisi membangun edukasi ke masyarakat secara bersama-sama kita akan kehabisan energi. Ini dibutuhkan stamina sosial besar loh. Ini panjang. Butuh stamina sosial yang cukup kuat,” kata Yurianto, dalam diskusi virtual, Minggu 3 Mei 2020.

Lanjut Yurianto, upaya membangun kekuatan sosial tersebut dapat dilihat dari langkah yang dilakukan Negara Vietnam dalam melawan Covid-19.

Dia menambahkan, Vietnam berhasil menggalang kekuatan sosial dalam mengatasi Covid-19.

“Kita coba melihat keberhasilan Vietnam. Kita lihat bagaimana pemberdayaan masyarakat. Vietnam itu membangkitkan kembali permasalahan Covid-19 dengan semangat gotong royong pada waktu perang Vietnam, dimunculkan semangat itu,” tambahnya.

Yurianto juga menjelaskan masyarakat Indonesia dapat dilatih dan diedukasi untuk menjadi safe community.

“Safe Community kita bisa dikembangkan masyarakat yang mampu mengidentifikasi apa sih ancaman yang ada di dia, kemudian siapa yang paling rentan dari ancaman itu, apa sih kapasitas yang dimiliki masyarakat secara mandiri untuk mengeliminasi atau mengurangi risiko atau ancaman,” jelas dia.

Selain, upaya dari pemerintah, keterlibatan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan dalam langkah edukasi kepada masyarakat ini.

“Masyarakat kita ini masyarakat panutan. Masih membutuhkan figur untuk dia patuhi dan figur itu belum tentu adalah pemerintah secara resmi. Belum tentu Pak RT itu satu-satunya tokoh yang disegani mungkin ada kyai, ada tokoh adat, itu yang lebih dipatuhi. Ini yang harus kita garap,” terangnya lagi.

 
Penulis: Moh Ali Ghufron

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Rehabilitasi DAS Sukses Memberi Manfaat Nyata Kepada Masyarakat Sekitar

Keadaan Menag Fachrul Razi Positif COVID-19 Jalani Isolasi di Rumah Sakit

Atasi Macet Di Puncak Bogor, Menhub Gandeng ITB

Bupati Aceh Barat Positif Covid-19, Istri Negatif

Peringati Hari Jadi ke 75, PMI Bogor Bentuk Tim Penanganan Jenazah Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar