Guna Bangun Industri Hijau, Kementerian Perindustrian Manfaatkan Program Making Indonesia 4.0

Doddy Rahadi
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Doddy Rahadi. Doc Kemenperin

Terkini.id, Depok – Kementerian Perindustrian berupaya mewujudkan Program Making Indonesia 4.0 untuk dimanfaatkan, salah satunya dalam membangun industri hijau sesuai Undang Undang No 3 tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Karena industri Hijau merupakan icon di mana industri dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas pemakaian sumber daya secara berkelanjutan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi melalui keterangannya di Jakarta, Kamis 15 Oktober 2020.

Dalam Seminar Nasional Teknologi Industri Hijau 3 (SNTIH3) bertema ‘Making Indonesia 4.0: Green Technology Innovation Toward Sustainable Industry’ dia mengapresiasi Program Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang menggunakan teknologi industri 4.0 untuk dilakukan pembersihan akibat pencemaran dan kerusakan yang terjadi.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanuddin pada seminar itu mengutarakan bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan di Sungai Citarum membuat sungai itu menjadi yang terkotor di dunia dua tahun lalu.

Hal itu mengakibatkan kerugian besar terhadap kesehatan, ekonomi, sosial, ekosistem, sumber daya lingkungan dan generasi mendatang.

Menurut Safri, teknologi industri 4.0 sangat berkontribusi dalam program pengendalian DAS Citarum, khususnya dalam peningkatan efisiensi dan kebutuhan akurasi data.

“Kami memanfaatkan teknologi 4.0 dalam pengendalian DAS Citarum, seperti IoT Video Analytic dan CCTV, IoT Water Quality Monitoring System guna menganalisa data kualitas air sungai serta pengembangan website Citarumharum dan membentuk Command Center PPK. Dengan dukungan itu terjadi efisiensi biaya,” paparnya.

Untuk itu, Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) (BBTPPI) di bawah Kemenperin Ali Murtopo Simbolon menyatakan siap mendukung pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran pada sungai Bengawan Solo.

Pihaknya juga merevitalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) industri kecil dan menengah (IKM) Batik Laweyan Solo; membuat pilot project pengolahan limbah IKM Ciu di Polokarto dan kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah guna mengatasi limbah dari IKM batik, alkohol dan usaha ternak babi.

Di samping itu, BBTPPI mengumpulkan data terkait kinerja IPAL untuk 15 industri yang bergerak di bidang tekstil, garmen, kecap dan saos, cat serta alkohol yang berada di sekitar wilayah Sungai Bengawan Solo.

“Kami memberikan bimbingan teknis permasalahan pengolahan limbah kepada 40 industri menengah besar ditambah 50 UKM-IKM di Solo Raya dan 110 industri lainnya di Jateng,” ujar Ali.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Dinyatakan Ilegal OJK, Nama Fintech Ini Digunakan Teror

Trending Terkini Video Adegan Panas Mirip Artis Indonesia Gisella Anastasia

Ketua PMI DKI Terima Anugerah Jakarta Youth Award 2020

Aplikasi Dana Mudahkan Bayar Parkir Non Tunai

Pemerintah Gelar Pelatihan Digitalisasi Produk Halal Bagi UMKM

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar